1000 Hari Perlindungan
Image

Penyebab Perut Bayi Kembung dan Berbunyi

Bayi sulit tidur dan tiba-tiba menjadi sering rewel tanpa alasan yang jelas, padahal kamu sudah melakukan segala hal untuk membuatnya berhenti menangis? Coba amati keadaan perutnya, jika terasa keras dan terdengar berbunyi seperti gemuruh, besar kemungkinan ia mengalami perut bayi kembung dan berbunyi. Meskipun bunyi dari dalam perutnya terdengar kencang, namun uniknya, bunyi ini tidak berasal dari lambung seperti yang Bunda kira selama ini, lho.


Mengutip pernyataan dari Joy Haskin, seorang tenaga kesehatan dari California State University, Amerika Serikat, bunyi ini justru berasal dari sistem pencernaan di usus besar dan usus kecil, dan hal ini wajar terjadi pada bayi. Menurut University of Iowa Stead Family Children’s Hospital, bunyi gemuruh yang Bunda dengar dari perut bayi itu sebenarnya normal. Bunyi tersebut berasal dari gerakan usus untuk meremas dan mendorong makanan masuk untuk dicerna dan sisanya diolah menjadi feses. Struktur usus manusia mirip terowongan panjang berongga, sehingga kemudian akan timbul bunyi gemuruh yang menggema. Inilah sebabnya Bunda bisa mendengar perut bayi berbunyi walaupun mungkin tidak begitu jelas.


Baca Juga :  Kulit Bayi Sensitif? Lakukan Hal Ini Untuk Merawatnya


Penyebab Perut Bayi Kembung dan Berbunyi

Bingung apa, sih yang menyebabkan perut bayi kembung dan berbunyi? Ada banyak faktor, ingat-ingat kembali apakah si kecil sempat mengalami beberapa hal di bawah ini:


1.       Bayi tidak sengaja menelan banyak udara

Sama halnya seperti orang dewasa, udara bisa ikut masuk ke dalam saluran pencernaan bayi yang biasanya disebabkan karena si kecil banyak menangis. Pemberian empeng dengan tujuan membuatnya tenang juga dapat memicu bayi menelan banyak udara yang masuk melalui mulutnya menuju ke saluran pencernaannya. Di dalam saluran pencernaan, udara yang masuk bisa terjebak pada lengkungan usus atau tempat lainnya dalam jangka waktu beberapa menit. Hal ini bisa menyebabkan si kecil merasa tidak nyaman lalu menangis.


2.       Menelan air susu terlalu cepat

Saat menyusui, Bunda juga perlu memperhatikan apakah si kecil minum terlalu cepat. Si kecil dapat minum terlalu cepat jika aliran ASI Bunda lebih deras dari biasanya atau lubang pada dot berukuran terlalu besar. Saat membeli dot, pastikan ukuran lubangnya sesuai dengan usia bayi.


3.       Alergi terhadap susu atau makanan

Alergi pada manusia dapat menyebabkan banyak hal, termasuk timbulnya masalah pencernaan. Selain kemungkinan bayi alergi terhadap susu formula yang Bunda berikan, alergi juga dapat terjadi saat si kecil menyusu ASI Bunda, dimana ternyata si kecil alergi dengan makanan yang Bunda konsumsi. Beberapa makanan yang bisa membuat perut bayi kembung dan berbunyi di antaranya tomat, jeruk, produk kacang kedelai, produk olahan susu, brokoli dan kol.


Baca Juga : Hidung Bayi Mampet Tapi Tidak Pilek, Ada Apa?


4.       Kandungan zat besi pada susu formula

Angela Nolan, seorang ahli nutrisi bayi dari Cornell University, menyebutkan bahwa banyaknya kandungan zat besi pada susu formula dapat mengakibatkan bayi mengalami perut kembung dan sulit buang air besar atau konstipasi.


5.       Posisi menyusui yang salah

Saat menyusui, pastikan kepala si kecil lebih tinggi dari perutnya agar mengurangi risiko perut bayi kembung dan berbunyi. Setelah minum susu, buat si kecil bersendawa dengan cara mendekapkannya ke bahu Bunda dan menepuk-nepuk punggungnya secara perlahan. Bisa juga dengan posisi bayi tengkurap di atas pangkuan Bunda lalu tepuk punggungnya sambil menggerakkan pergelangan kaki Bunda naik turun secara perlahan. Cara lain seperti meletakkan bayi dalam posisi tidur dan dengan perlahan gerakkan kaki si kecil naik turun dalam posisi lutut tertekuk juga dapat membantu mengurangi risiko perut bayi kembung dan berbunyi.


Gejala Perut Bayi Kembung dan Berbunyi

Perut bayi kembung dan sering kentut biasanya menunjukkan gejala-gejala. Entah si kecil memberi ‘sinyal’ langsung atau dari ciri-ciri fisik sebagai berikut:


1.       Anak menangis sambil menunjuk perutnya

Bayi di bawah usia 1 tahun sering menangis untuk mengekspresikan perasaan dan emosinya. Hal ini normal terjadi, namun yang perlu dikhawatirkan jika si kecil menangis tanpa henti seharian. Hal ini merupakan tanda bahwa bayi merasa tidak nyaman atau terganggu kesehatannya. Jika si kecil mengalami perut bayi kembung dan berbunyi biasanya akan mengarahkan tangannya ke bagian perut atau mulai menarik-narik bagian pakaian di dekat perutnya sambil menangis. Hal pertama yang Bunda bisa langsung lakukan untuk membuatnya lebih nyaman yaitu dengan mengoleskan Sleek Baby Telon Oil ke perutnya sambil memijat lembut untuk. Selain itu, Sleek Baby Telon Oil ini kandungannya 2x minyak telon biasa ditambah minyak anisinya yang lebih banyak jadi lebih efektif mengatasi perut kembung dan berbunyi.


2.       Perut menjadi lebih keras setiap makan

Bayi yang berusia di bawah 4 bulan memang sering mengalami perut bayi kembung dan berbunyi. Ini terjadi karena sistem pencernaannya yang belum sempurna. Biasanya setelah Bunda memberikannya ASI atau MPASI, lalu tiba-tiba perut bayi mengeras dan jika ditepuk perlahan timbul bunyi menggema yang cukup keras, saat itulah perut bayi dipenuhi gas sehingga mengalami kembung. Bunda pun juga harus memperhatikan makanan yang dikonsumsi si kecil seperti membuat MPASI dari bahan yang tidak menimbulkan banyak gas. Ini untuk membuat perut si kecil terasa lebih nyaman.


3.       Si kecil lebih sering membuang gas

Sebenarnya membuang gas atau kentut merupakan tanda bahwa organ dalam tubuh bayi bekerja dengan baik. Namun, Bunda juga tetap harus berhati-hati jika bayi terlalu sering mengeluarkan gas. Kondisi tersebut disebabkan oleh organ pencernaannya yang belum matang dan membuat gas lebih mudah berkumpul di bagian lambung dan usus sehingga perut si kecil menjadi kembung. Kembung juga dapat terjadi karena udara yang masuk ke dalam mulut bayi seperti saat menyusu, mulut bayi tidak melekat sempurna dengan puting atau dot botol susu. Supaya bayi merasa lebih nyaman, Bunda bisa meletakkan bayi dengan posisi tengkurap sehingga gas yang terkumpul di dalam perutnya naik ke tempat yang lebih tinggi dan angin bisa keluar dari tubuh bayi.


4.       Demam dan diare

Perut bayi kembung dan berbunyi juga dapat disebabkan adanya infeksi bakteri atau virus di dalam organ bagian perutnya. Selain perutnya yang terasa sakit, demam juga bisa menjadi pertanda. Pada umumnya, demam terjadi karena reaksi tubuh melawan virus ataupun bakteri yang masuk ke dalam tubuh dan flu perut yang disertai kembung ini akan membaik dengan sendirinya. Bunda hanya perlu menghindari makanan yang mengandung zat gula tinggi agar tidak memicu terjadinya diare.


5.       Sakit perut disertai muntah

Perut bayi kembungdan berbunyi  juga bisa disebabkan karena radang usus buntu yang disebabkan oleh adanya sumbatan dan pembengkakan akibat cairan dan bakteri yang mengendap di usus. Hal ini ditandai dengan nafsu makan berkurang dan sakit di sisi kanan perutnya. Tak jarang bayi juga mengalami muntah. Saat si kecil mengalami gejala seperti ini, Bunda harus segera berkonsultasi dengan dokter karena ditakutkan dapat menjadi infeksi yang serius.


Perut Berbunyi Tanda Pencernaan Sehat

Perut bayi berbunyi ternyata adalah hal yang normal dan justru menandakan bahwa sistem pencernaan bayi berfungsi dengan baik. Seperti orang dewasa, bunyi tersebut juga bisa muncul saat bayi kelaparan. Perut bayi yang kosong akan mengeluarkan bunyi karena adanya gerakan usus yang yang meremas kehampaan karena tidak ada makanan yang masuk. Ini juga sebenarnya merupakan sinyal dari otak bahwa si kecil membutuhkan makanan.


Makanan fermentasi dan kacang-kacangan juga dapat membuat perut bayi berbunyi. Hal ini diakibatkan karena bakteri normal yang hidup di usus memakan gula yang dihasilkan dari makanan tersebut. Lalu bakteri tersebut akan mengeluarkan gas sebagai efek samping dari proses pencernaan bakteri itu sendiri.


Berdasarkan penelitian dari National Institute of Health, perut bayi yang tiba-tiba berhenti mengeluarkan bunyi justru lebih mengkhawatirkan. Jika Bunda mendengar suara bernada tinggi daripada suara bernada berat dari perut si kecil, Bunda disarankan untuk langsung berkonsultasi dengan dokter anak, karena ditakutkan terjadi intestinal blockage atau penghambatan dalam usus pada perut si kecil.


Baca Juga : Manfaat Aroma Minyak Telon yang Belum Banyak Orang Ketahui


Perut Berbunyi Juga Bisa Menjadi Pertanda Adanya Penyakit

Meskipun perut bayi berbunyi ternyata adalah hal yang normal, namun bunyi pada perut juga bisa menandakan suatu penyakit lho, Bunda. Oleh karena itu, seringkali dokter meletakkan stetoskop pada perut kita saat sedang memeriksakan kondisi tubuh kita. Normalnya, bunyi pada perut bayi akan berkurang dan akhirnya berhenti saat si kecil tidur. Namun kalau bunyi pada perut si kecil terdengar tidak teratur, berkurang atau bertambah nyaring setelah makan dan disertai muncul gejala lainnya, segera bawa dan periksakan si kecil ke dokter ya, Bunda. Di bawah ini merupakan beberapa kondisi yang menyebabkan perubahan bunyi pada perut bayi, seperti:


- Bunyi perut bayi terdengar lebih keras

Bunyi pada perut bayi ini kadang bisa terdengar tanpa menggunakan stetoskop. Ini bisa menandakan bahwa bayi sedang mengalami diare, alergi makanan, infeksi usus atau colitis ulserativa (peradangan pada usus besar yang menyebabkan usus berdarah).


 - Bunyi perut bayi menurun

Bunyi pada perut bayi menjadi lebih lamban atau berkurang dari biasanya setelah makan bisa juga menandakan adanya penyakit. Kemungkinan si kecil mengalami konstipasi atau susah buang air besar dan peradangan pada usus. Bila perut bayi tidak berbunyi sama sekali, kemungkinan bayi mengalami penyumbatan usus.


 Apabila terjadi hal-hal tersebut disertai gejala lainnya, terutama bayi menjadi tidak nyaman dan sering menangis, Bunda harus segera periksakan kesehatannya ke dokter. Dokter akan mengevaluasi bunyi pada perut bayi dengan gejala buang angin, mual, muntah dan aktivitas buang air besarnya. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, si kecil akan menjalani tes pemindaian pada perut, tes darah, dan endoskopi untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. 


Leave a comment